Kursus pemasaran influencer

Subscribe Us

Ecoliterasi: Solusi Strategis Memutus Rantai Kerusakan Lingkungan

Ecoliterasi bukan sekadar tren hijau, melainkan strategi kunci memutus rantai kerusakan alam. Temukan langkah edukasi strategis demi mencegah kiamat lingkungan yang nyata. Namun, apakah edukasi sejak dini cukup kuat untuk melawan keserakahan industri saat ini?

Ilustrasi Ecoliterasi Memutus Rantai Kerusakan Lingkungan
Ecoliterasi bukan sekadar tren hijau, melainkan strategi kunci menyelamatkan masa depan bumi kita. (Gemini)

Di tengah maraknya berbagai peristiwa bencana alam yang semakin mengkhawatirkan melanda kita saat ini, seperti banjir, tanah longsor, dan perubahan iklim ekstrem, urgensi untuk menanamkan kesadaran dan kepedulian lingkungan sejak usia dini menjadi semakin nyata.

Ekoliterasi, sebagai pemahaman mendasar tentang sistem alam dan hubungan manusia dengan lingkungan, memegang peranan krusial dalam membekali generasi mendatang dengan pengetahuan dan nilai-nilai yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan lingkungan global.

Mengingat betapa rentannya bumi kita saat ini, menumbuhkan perilaku ramah lingkungan sejak anak-anak merupakan investasi penting untuk membangun generasi "ramah bumi" yang tidak hanya memahami akar permasalahan, tetapi juga memiliki motivasi dan kemampuan untuk bertindak secara bertanggung jawab demi menjaga kelestarian planet yang kita huni bersama.

Seorang anak sejak dini harus mempunyai kesadaran dalam mencintai lingkungan sekitarnya sehingga ketika anak mulai memasuki tahapan selanjutnya, sudah memiliki kesadaran untuk mencintai lingkungan.

Pentingnya Lingkungan 

Lingkungan merupakan tempat tinggal kita bersama, sudah selayaknya di jaga dilestarikan agar kita hidup nyaman tenteram menuju keberlangsungan hidup. Lingkungan merupakan sebuah warisan. Akhadi meegaskan bahwa lingkungan tempat hidup manusia sangat mempengaruhi kualitas hidup manusia.

Pada kenyataannya kualitas lingkungan tempat tinggal kita semakin menurun dari tahun ke tahun. Hal ini dapat dilihat dari situs web resmi Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang menyatakan bahwa Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Indonesia kian memprihatinkan dari tahun ke tahunnya.

Salah satu penyebab buruknya kualitas lingkungan tersebut, jika di cermati sebenarnya berakar dari cara pandang dan perilaku dan kebiasaan masyarakat itu sendiri sebagai pengguna yang berimplikasi pada lingkungan itu sendiri,

Perilaku ramah lingkungan dimaknai sebagai perilaku bertanggung jawab dengan lingkungan yang melibatkan kebiasaan pribadi ataupun kolektif.

Ekoliterasi

Salah satu upaya membentuk perilaku ramah lingkungan adalah dengan ekoliterasi, menciptakan pemahaman pentingnya kesadaran ekologis global, sehingga ada keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dengan batas kekuatan lingkungan. 

Ekoliterasi atau “melek ekologi” merupakan tahapan pertama dari proses pembentukkan perilaku ramah lingkungan pada anak. Pemahaman dan sikap “melek ekologi” ini perlu diperkenalkan dan ditanamkan sejak anak usia dini.

Usia dini merupakan usia yang sangat pentingbagi perkembangan anak sehingga disebut golden age.

Ekoliterasi bagi anak usia dini adalah mengenalkan kesadaran anak untuk memelihara dan menjaga lingkungan sekitar dengan menggunakan pendekatan yang sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif anak sehingga pada akhirnya mereka memiliki perilaku “cinta” pada lingkungan yang akan diimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Urgensi Ekoliterasi dan Perilaku Ramah Lingkungan Anak Usia Dini

Ekoliterasi menggambarkan kesadaran pentingnya lingkungan hidup. Orang yang sudah sampai pada taraf ekoliterasi menyadari pentingnya lingkungan hidup, merawat bumi, ekosistem, alam sebagai tempat tinggal dan berkembangnya kehidupan.

Secara psikologi anak masih sangat sensitif dalam membentuk perilaku. Menurut survey 200 pendidik lingkungan dari seluruh dunia, salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku ramah lingkungan bahwa predictor terkuat dari kepedulian mereka terhadap lingkungan adalah jumlah pengalaman luar mereka sebagai anak-anak (Gifford & Nilsson)

Tahapan Pengenalan Ekoliterasi pada Anak

Goleman mengemukakan lima tahapan untuk pengenalan ekoliterasi

1. Mengembangkan Empati dalam Semua Aspek Hidup

Setiap anak mempunyai kepakaan (empati) terhadap lingkungannya yang bisa terlihat saat anak merasa kasihan terhadap mahluk hidup ketika disakiti. 

Proses ini bisa dimulai oleh orang tua, guru melalui pengenalan lingkungan sekitar, bentuk alam, makhluk hidup, gejala alam, pemanfaatan dan pelestariannya, kemudian pada tahap lanjut anakdiajak secara langsung untuk berinteraksi dengan alam.

Anak-anak juga bisa diajak untuk berimajinasi dalam proses ini melalui cerita, yang berhubungan dengan kegiatan menjaga lingkungan sekitar. 

2. Ekoliterasi dalam kelompok 

Ekoliterasi secara berkelompok dapat menumbuhkan kesenangan tersendiripada anak serta dapat menumbuhkan rasa tanggungjawab terhadap tugas dan teman satu kelompok yang lainnya. 

Anak-anak akan mempunyai kesadaran ekologi ketika mereka berada dalam satu kelompok bermainnya melakukan kegiatan di alam seperti menjelajah alam bersama dan bermain bersama disungai sehingga pada akhirnya anak-anak akan menampakan perilaku ramah lingkungan seperti tidak membuang sampah sembarangan dan mau merawat tanaman.

3. lebih dekat dan menjiwai setiap prosesnya

Saat mereka merasakan apa yang menjadi tujuan. Hal ini akan menjadikan proses menjadi lebih bermakna. Anak dapat merasakan secara langsung bagaimana pembelajaran merawat lingkungan. 

Salah satu cara pengenalan ekoliterasi adalah dengan melakukaneksplorasi dan percobaan (trial and error), misalnya:pepohonan di halaman bisa kita manfaatkan untuk pengenalan ekoliterasi yaitu dengan mengajak anak merawat, membersihkan daun-daun yang sudah layu, menyiram tanaman secara berkala, dan lainnya.

Tanamkan nilai ke anak jika menjaganya danmerawatnya karena selain untuk keindahan, tanaman pundapat membuat udara menjadi sejuk dan bersih.

Ekoliterasi pada anak usia dini juga dapat dilakukan dengan karyawisata, misalnya mengunjungi perkebunan, sawah, kebun binatang dan tempat-tempat lainnya. Kegiatan ini menjadikan anakakan mampu mempelajari dan mengeksplor alam sekitar secara langsung.

4. Belajar untuk bertanggung jawab

Akan ada akibat yang terjadi bila anak menyepelekan tugasnya dalam proses pembelajaran. Kesalahan-kesalahan yang terjadi pada kegiatan atau proses belajar mengajar mengajarkan anak akan perlunya kerjasama dan konsisiten terhadaptugasnya. 

Ketidaksesuaian harapan dengan kenyataanmenjadi hal yang akan ditemukan anak, sehingga anakdapat mengevaluasi bagaimana seharusnya kegiatan yang baik dan benar.


5. Memahami Bagaimana Alam Tumbuh alami

Kegiatan ini akan membawa anak ke dalam tahap evaluasi secara langsung, anak akan menyadari efek yang terjadi terjadi bila lingkungan tidak dipelihara dengan baik. Memahami bahwa kehidupan merupakan tanggung jawab manusia yang mengelolanya.

Pengelolaan yang baik akan memberi efek baik bagi lingkungan dan begitu juga sebaliknya. Hal ini akan memberi pengalaman tersendiri untuk anak. 

Misalnya :kegiatan proyek dimulai dari mengajarkan anak untuk menanam tanaman herbal, merawatnya, memanennya,membuat pupuk kompos sampai dengan mengkonsumsi hasil panennya sendiri.

Ekoliterasi pada anak usia dini juga dapat dilakukan adalah dengan memberikan bentuk pembelajaran proyek sehingga dapat menumbuhkan keterampilan berpikir kritis pada anak, menumbuhkan keterampilan menyelesaikan masalah pada anak, danmenjadikan anak sebagai pelajar yang mandiri. 

Anak-anak diberikan pengetahuan yang disertai dengan praktik tentang pentinya menjaga lingkungan sekitar seperti cara menghemat air, cara memelihara tanaman serta memilah sampah organik dan non-organik.

Harapannya dengan memiliki pengetahuanmengenai masalah- masalah dan tindakan-tindakanpositif yang potensial mengenai lingkungan lebihdimungkinkan anak usia dini secara sadar peduli terhadaplingkungan atau sengaja bertindak dengan cara yanglebih ramah terhadap lingkungan, dan terbawa sampai iamenjadi remaja dan dewasa. 

Dalam penelitian lainnya diInggris menemukan bahwa diskriminator terbaikantararemaja peduli lingkungan dengan acuh tak acuh adalahjumlah pengetahuan lingkungan tentang isu-isu spesifiklingkungan (Gifford & Nilsson, 2014)

Dalam proses pengenalan ekoliterasi yangsudah diuraikan diatas maka harus di ikuti pula perilaku-perilaku orang dewasa di sekitar anak dengan perilaku:

1. Keteladanan

Keteladanan adalah metode yang paling meyakinkan keberhasilan dalam mempersiapkan danmembentuk anak dalam moral, spiritual dan moral.Dalam konteks ekoliterasi, metode ini sangat penting danmerupakan kawasan afektif yang terwujud dalam bentuktingkah laku (behavioral). 

Metode ini didasari padapemahaman bahwa tingkah laku anak dimulai denganimitatio, meniru dan ini berlaku sejak masih kecil.

Dalam konteks ekoliterasi dalam membentukperilaku ramah lingkungan keteladanan ini memilikipengaruh yang sangat kuat. Bagaimana mungkin oranglain akan dapat menumbuhkan perilaku ramahlingkungan dalam dirinya kalau orang yang mengajarkantidak pernah bersikap dan berperilaku yang diajarkan.

Pentingnya keteladanan ini sesuai dengan adagiumbahwa satu keteladanan lebih berharga dibanding denganseribu nasehat. Kesadaran lingkungan bisa ditumbuhkankepada siswa jika guru sendiri memiliki kemelekanlingkungan (literate).

2. Pembiasaan, dan pengulangan dalamkehidupan sehari-hari.

Penumbuhan ekoliterasi akan dapat terlaksanaapabila dilakukan dengan pembiasaan yang terusmenerus sehingga menjadi kebiasaan yang melekatdalam pribadi seseorang. Proses pembiasaan ini dapatdilakukan secara bertahap dan di mulai dari hal yangringan atau mudah. 

Dengan membiasakan perilaku cintalingkungan pada anak usia dini melalui pola pembiasaankarena melalui pembiasaan, akan terbentuk perilaku yangbersifat menetap pada diri anak (Sujiono, 2009).

Ref: Prosiding Seminar Nasional & Call For Paper 2018, Yulia Hairina

Posting Komentar

0 Komentar