Kursus pemasaran influencer

Subscribe Us

Reuni, Mengapa Aku Tidak Menghadirimu? Dilema Temu Kangen dalam Realita (Bag. 1)

Di balik tawa masa-masa sekolah puluhan tahun lalu, reuni dapat menjadi penawar dahaga rindu kangen bertemu. Namun acara ini sering kali berubah menjadi panggung eksistensi yang intimidatif bagi mereka yang terpinggirkan, sehingga tidak menghadirinya jadi pilihan logis.

Masihkah ada ruang agar semua merasa setara? Bagaimana membangun martabat reuni dalam inklusivitas dan humanisme konstruktif?

Reuni, Dilema Temu Kangen dalam Realita | Gemini

Saat kita berada di bangku pendidikan dulu, baik di sekolah ataupun kampus, kita punya kesamaan, belajar bersama, tempat belajar dan seragam yang sama, bahkan ke kantinpun kita bareng. Kita tidak peduli apakah orang tua kita seorang pejabat ataupun pinggiran buruh kecil.

Berbagi lapangan olah raga, bolos dengan ketakutan yang sama, semuanya kita bersama-sama dalam tawa canda. Yang membedakan hanyalah angka rangking di raport, namun itu tidak pernah jadi persoalan.

25 tahun kemudian…

Seiring waktu berlalu musim berganti dalam perjalanan panjang hidup yang berbeda arah impian. Waktu mempertemukan kembali, namun remaja yang dulu lugu itu kini menjadi sosok lain dan asing, berbeda wajah dan seragam.

Pesan WhatsApp undangan reuni muncul, hotel bintang, daftar nama, nomor rekening buat iuran, serte rentetan kalimat temu kangen yang entah kenapa membuat kita bertanya, "apakah aku harus menghadirimu?"

Banyak dari kita, reuni bukan lagi soal temu kangen, banyak hal yang perlu direfleksikan dari momen ini, apakah ini sebuah ajang temu kangen silaturahmi semata yang bermanfaat untuk masa depan, atau malah sebaliknya?

Antara Temu Kangen dan Realita

Sesungguhnya reuni memiliki tujuan mulia dalam merawat ingatan, memperpanjang ikatan silaturahmi kawan belajar dulu yang sering kali terputus ruang waktu. 

Pertemuan ini seharusnya menjadi jembatan konstruktif untuk saling bertukar peluang, berbagi inspirasi, hingga membangun solidaritas sosial bagi teman-teman yang sedang didera kesulitan. 

Kita semua baik yang hadir maupun yang tidak, sejatinya memikul kerinduan yang sama terhadap tawa masa lalu, tanpa sekat kasta atau beban duniawi. 

Bagi mereka yang hadir, reuni adalah upaya berani untuk menjemput kembali potongan diri, berharap hangatnya persahabatan lama mampu menjadi penawar lelah di tengah kerasnya kehidupan dewasa kini, atau bahkan mencari dia yang hilang?

Namun, bagi mereka yang memilih tidak hadir, keindahan ideal itu sering kali terbentur oleh realitas yang kerap terjadi, bergesernya esensi pertemuan yang terasa intimidatif untuk dirinya. Ada benang merah diantara mereka yang ingin hadir ataupun absen, kenangan dan kesenjangan.

Mitos Otak: Cerdas Genetika dan Rusak Karena Usia, Benarkah? Ini Fakta Ilmiahnya!

Mengapa Kita Bukan Lagi Orang yang Sama?

Kita bukan lagi orang yang sama yang dia kenal, sehingga sudah merasa tidak relevan lagi.

Ada asumsi bahwa karena kita pernah duduk di kelas dan sekolah yang sama selama beberapa waktu, mungkin 3 atau 5 tahunan, kita akan selamanya punya koneksi. Namun waktu bisa mengubah jalan hidup, prioritas dan juga cara pandang.

Dulu, mungkin kita nyambung bahas soal hobi atau guru/dosen yang galak. Sekarang? Apa yang mau dibahas? 

Setelah serentetan basa-basi "kerja di mana" dan "anak sudah berapa" habis dalam termin pertama, sisa jam-jam berikutnya, mau apa yang dibahas?

Seiring waktu, frekuensi jadi berantakan, kita tidak mengenal dia lagi, diapun sebenarnya tidak mengenal siapa kita hari ini.

Ini pernah saya alami, teman sekolah yang kenal selama 6 tahun sejak SMP hingga SMA, bahkan teman sebangku dengan hubungan pertemanan yang sangat kental. 20 tahun kemudian aku mendapatkan kontaknya lalu meneleponnya secara langsung, apa yang didapat? Aku ngobrol dengannya namun terasa seperti salah orang.

Lain waktu mencoba menyapa teman lain yang satu kelas yang dulu sangat akrab tidak hanya dikelas, namun apa yang terjadi? Saya jadi orang yang salah sambung lagi. Beberapa orang yang dianggap akrab seolah tak pernah kenal.

Mungkin ada benarnya juga, identitas kita yang lama mungkin sudah usang terkubur perjalanan kita menuju manusia dewasa tanpa mereka. Buat mereka tidak perlu memaksakan diri akrab dengan masa lalu yang sudah tidak relevan.

Dinamika Silaturahmi dan Eksistensi

Dalam modal simbolik Bourdieu, makna reuni bergeser dari pengumpulan Social Capital (jejaring pertemanan) menjadi ajang pamer Symbolic Capital (status, gelar, materi). Saat didominasi mereka yang memiliki modal simbolik tinggi, maka terciptalah eksklusi sosial.

Mereka yang merasa tidak memiliki "tiket" kesuksesan akan merasa terasing. Reuni yang harusnya inklusif berubah menjadi struktur kelas, di mana suara dominan ditentukan oleh seberapa mentereng pencapaian seseorang.

Mari jujur-jujuran, selain ingin silaturahmi, apa lagi yang dibawa kita dari rumah?

Temu kangen tentu jadi alasan utama, namun tentu saja kita juga ada keinginan untuk menunjukkan bahwa kita telah berhasil melewati badai kehidupan, ingin terlihat sukses. Bahwa sosok yang dulu mungkin dianggap kecil, kini telah tumbuh menjadi pribadi unggul untuk mendapat applaus. 

Pakaian seragam dari panitia reuni yang digunakan bisa menghindari sebuah kekonyolan temu kangen ini, namun gestur, gaya bicara atau bahkan kendaraan tidak bisa menutupi siapa kita sesungguhnya.

Secara biologis, laki-laki memang punya insting dominasi, ingin terlihat "menang, kuasa" di depan teman lama. Sementara perempuan, sering kali terjebak dalam kompetisi standar hidup dan penampilan. 

Ini bukan soal baik atau buruk, ini soal insting dasar manusia yang ingin diakui. Masalahnya apakah semua orang punya energi untuk ikut dalam ‘persaingan” tak kasat mata ini?

Saat bercengkrama, obrolannya pasti akan menjurus pada pola yang sama, membandingkan. Siapa yang anaknya sekolah di tempat mahal atau siapa yang proyeknya sedang tembus milyaran, atau jabatan apa yang sedang didudukinya.

Bagi yang merasa sukses, reuni menjadi momen dan marketting citranya. Namun bagaimana bagi banyak orang pinggiran?

Saat bertemu, apakah mereka yang diatas ini tulus akan memberi ‘pertolongan’ pada kehidupannya, apakah mental si pinggiran akan sanggup pula menerimanya?

Di panggung reuni ini yang mungkin bisa menyakiti ini, mereka memutuskan tidak hadir agar tidak menambah beban masalah psikologisnya.

Banyak orang bilang reuni itu menyambung silaturahmi, namun silaturahmi macam apa jika yang dilihat hanya pertunjukkan eksistensi dalam canda tawa yang hambar?

Beranikah kita datang dengan langkah gontai?

Masihkah ada yang berani bicara kegagalan, kepedihan diri? 

Adakah yang mau mendengarnya? 

Empatikah atau mereka merasa tertawa?

Reuni sering kali gagal menangkap sisi manusiawi kita secara ikatan emosional karena memang kehilangan itu selama puluhan tahun, dan ini bisa difahami juga.

Dalam nuansa nostalgia, kita sulit bicara soal kegagalan pernikahan, kebangkrutan usaha, atau rasa hampa untuk berbicara apa adnya. Semuanya harus terlihat baik-baik saja dan sukses. Ini hampir pasti jadi visi dari semua yang antusias menghadirinya, apalagi mereka yang benar-benar sukses.

Dalam acara seperti ini, kita kehilangan kemampuan untuk membuang kalimat “Sekarang posisimu apa, iya aku juga". Sehingga kalimat "Apa yang sedang kamu gelisahkan,?" sulit terdengar.

Reuni sering terjebak dalam Hyperreality, pertemuan fisik hanya menjadi formalitas demi konten atau citra luar (seperti foto bersama yang tampak bahagia). Budaya reuni kita sering kali merayakan citra (apa yang tampak) daripada esensi (bagaimana hubungan sebenarnya). 

Kita terjebak dalam "Masyarakat Tontonan" (The Society of the Spectacle), di mana kehadiran fisik dihitung sebagai kesuksesan sosial, sementara kedalaman obrolan dan empati justru terpinggirkan.

Halaman selanjutnya...

Posting Komentar

0 Komentar